
Laskar Pelangi adalah sekumpulan anak yang lahir dan tumbuh di sebuah pulau kaya timah di negeri Indonesia. Namun, pulau yang semestinya kaya raya itu ternyata justru miskin tidak hanya dari sisi ekonomi, melainkan juga pendidikan. Di tengah-tengah keterbatasan fasilitas, anak-anak itu ternyata memiliki semngat belajar yang luar biasa tingginya.
Laskar Pelangi. Begitulah, BU Mus menjuluki anak-anak didiknya. Harapannya, anak-anak didiknya itu akan bisa memberikan warna indah dunia selayaknya palangi. Dan, nama adalah doa. Meski tidak semua, ada juga anggota Laskar Pelangi yang bisa mendapatkan prestasi luar biasa dan membanggakan. Sebut saja Mahar yang telah menerbitkan sebuah novel tentang persahabatan, Kucai yang berhasil menjadi ketua fraksi salah satu partai di DPRD Belitong, dan Ikal melanjutkan pendidikannya setelah keluar dari pekerjaannya di kantor pos.
Membaca novel ini akan membuat kita tertawa, menangis, dan takjub mengetahui kegigihan dan kekreatifan anak-anak Laskar Pelangi dalam menjalani hidup mereka sebagai anak-anak Melayu.
"Tidak pernah ada yang bisa mengalahkan kekuatan cinta yang murni dan tulus. Cinta yang mendalam menebarkan energi positif yang tidak hanya mengubah hidup seseorang, tetapi juga menerangi kehidupan orang banyak."-Kompas
"Di tengah berbagai berita dan hiburan televisi tentang sekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, maka buku ini adalah pilihan yang menarik. Buku ini ditulis dalam semangat realis kehidupan sekolah, sebuah dunia tak tersentuh, sebuah semangat bersama untuk survive dalam humanisme yang menyentuh."- Garin Nugroho, sineas
"Novel ini menunjukkan pada kita bahwa pendidikan adalah memberikan hati kita kepada anak-anak, bukan sekadar memberikan instruksi atau komando, dan bahwa setiap anak memiliki potensi unggul yang akan tumbuh menjadi prestasi cemerlang di masa depan..."-Kak Seto, ketua Komnas Perlindungan Anak
"Ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, menjawab inti pertanyaan kita tentang hubungan antara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas pendidikan." -Sapardi Djoko Damono, sastrawan dan guru besar



